Category Archives: Artikel

Muhammadiyah dan pilpres 2014

PADA 2014 disebut sebagai “tahun politik”. Tahun ini dua perhelatan politik lima tahunan, pemilu legislatif dan pemilihan presiden, akan dilangsungkan.

Lazimnya perhelatan politik, kontestan atau kandidat akan berusaha memperbanyak dan memperlebar sayap dukungan politik. Modusnya pun beragam, dari mulai yang bersifat personal dengan mendatangi tokoh-tokoh tertentu maupun yang bersifat institusional dengan mendatangi ormas-ormas tertentu.

Meskipun posisi Muhammadiyah sangat jelas yaitu sebagai gerakan Islam, da’wah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Alquran dan As-Sunnah (baca Anggaran Dasar Pasal 4 Ayat 1) yang sudah tentu tidak mempunyai keterkaitan dengan kekuatan politik mana pun, faktanya ketika datang “musim politik” selalu saja ada yang berusaha menyeret masuk atau setidaknya mencoba menghimpitkan Muhammadiyah dengan salahsatu kontestan atau kandidat politik tertentu.

Posisi politik Muhammadiyah 
Dalam rumusan Khitah Perjuangan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara ditegaskan bahwa “Muhammadiyah senantiasa memainkan peranan politiknya sebagai wujud dari da’wah amar ma’ruf nahi munkar dengan jalan memengaruhi prosesdankebijakannegara agar tetap berjalan sesuai konstitusi dan cita-cita luhur bangsa.

Muhammadiyah secara aktif menjadi kekuatan perekat bangsa dan berfungsi sebagai wahana pendidikan politik yang sehat menuju kehidupan nasional yang damai dan berkeadaban.” “Muhammadiyah tidak berafiliasi dan tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan kekuatan politik atau organisasi mana pun.

Muhammadiyah senantiasa mengembangkan sikap positif dalam memandang perjuangan politik dan menjalankan fungsi kritik sesuai prinsip amar ma’ruf nahi munkar demi tegaknya sistem politik kenegaraan yang demokratis dan berkeadaban.”

Rumusan khitah tersebut secara jelas (idzhar) menegaskan tentang posisi politik Muhammadiyah, di mana politik lebih dimaknai sebagai bentuk kegiatan kemasyarakatan yangbersifat pembinaan atau pemberdayaan masyarakat maupun kegiatankegiatan politik tidak langsung (high politics) yangbersifat memengaruhikebijakannegara dengan perjuangan moral (moral force).

Istikamah berkhitah dan kasus “Imam Salat” 
Rumusan khitah di atas membawa konsekuensi pada keharusan sikap dan posisi politik Muhammadiyah untuk tetap istikamah dan sejalan dengan khitah tersebut. Pengertian istikamah di sini tentu harus dimaknai secara dinamis sejalan perkembangan dan dinamika politik yang terjadi dan langgam kepemimpinan di perserikatan yang tidak selalu sama dalam setiap periode kepemimpinan.

Menelaah kepemimpinan Muhammadiyah pasca-Orde Baru, akan didapati perbedaan langgam kepemimpinan dalam relasinya dengan partai politik. Era Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii, 1998-2005) langgam yang ditampilkan adalah “menjaga jarak yang sama” (keep close) dengan semua partai politik. Sementara di era Din Syamsuddin (Bang Din, 2005-2015) langgam yang ditampilkan adalah“menjaga kedekatan yang sama” (keep distance) dengan semua partai politik.

Dua langgam ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh pribadi Buya Syafii maupun Bang Din. Bila langgam pertama lebih menggambarkan “kekakuan” (rigid) Muhammadiyah dalam menjalin relasi dengan partai politik, langgam kedua lebih menggambarkan relasi yang lebih “lunak” (soft). Buya Syafii adalah sosok pribadi yang sebelumnya tidak pernah berkecimpung sama sekali di dunia politik kepartaian sehingga wajar bila langgam yang ditampilkannya terkesan lebih “kaku”.

Sementara Bang Din sebelum menjadi ketua umum Muhammadiyah sempat aktif di Golkar— saat itu (Orde Baru) masih menyebut dirinya orsospol dan belum menjadi partai politik sehingga wajar pula ketika langgamnya tampak lebih “lunak” dan lebih realistis dalam menjalin relasi dengan partai politik. Konsekuensi dari langgam “menjaga kedekatan yang sama”, Muhammadiyah dituntut untuk benar-benar istikamah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik, termasuk kandidat-kandidat calon presiden (capres).

Muhammadiyah tidak boleh menunjukkan keberpihakan kepada kandidat tertentu ketika keberpihakan tersebut semata dilandasi kepentingan politik yang bersifat pragmatis misalnya sekadar berharap ada kader Muhammadiyah yang akan dipinang menjadi pasangan capres tertentu. Pragmatisme itu wilayahnya partai politik dan Muhammadiyah itu bukan partai politik sehingga tidak tepat bila Muhammadiyah terperangkap pada politik dukung mendukung yang bersifat pragmatis.

Kalaupun misalnya Muhammadiyah akan mendukung kandidat capres tertentu, cara yang ditempuhnya harus tetap elok. Begitu juga kalau misalnya ada kader Muhammadiyah yang layak dan menjadi “rebutan” beberapa capres, pilihan untuk mendampingi capres tertentu pun harus tetap didasarkan pada nilai-nilai idealitas.

Capres yang akan dipilih bukan hanya karena pertimbangan popularitasnya, melainkan harus mendasarkan pada visinya. Karena acuannya adalah khitah dan nilai-nilai idealitas politik, menjadi kurang elok ketika misalnya Muhammadiyah menerima capres tertentu dan memberikan kesempatan yang bersangkutan untuk menjadi imam salat( meskipun hanya imam salat zuhur yang bacaan imamnya sirri).

Merujuk pada kebiasaan Rasul Muhammad saat sakitnya, yang kerap memberikan kesempatan kepada Abu Bakar untuk menggantikannya menjadi imam salat, yang kemudian ditafsir oleh umat Islam saat itu sebagai “sinyal dukungan” bahwa estafet kepemimpinan umat Islam pasca-Rasul akan jatuh ke tangan Abu Bakar–– dan dalam perjalanan sejarahnya memang terbukti, pemberian kesempatan untuk menjadi imam salat tentu akan ditafsir sebagai bentuk “sinyal dukungan” yang bersifat simbolik dari Muhammadiyah kepada capres bersangkutan.

Padahal bila menengok fikih salat terkait persyaratan ideal untuk menjadi imam salat, tidaklah gampang: harus orang yang paling baik bacaannya (aqra’uhun), orang yang paling wara’ atau mampu menjaga diri dari hal yang bersifat syubhat sekalipun, dan orang yang paling tua usianya. Bagi Abu Bakar, untuk memenuhi persyaratan tersebut tentu bukanlah sesuatu yang sulit.

Kasus “imam salat” ini sedikitnya telah mencederai posisi politik Muhammadiyah. Secara simbolik, kasus “imam salat” ini juga bisa ditafsir sebagai bentuk kegenitan atau keinginan dari Muhammadiyah untuk mengambil peran-peran politik yang bersifat praktis dan pragmatis.

Kalau Muhammadiyah sampai jatuh pada kubangan pragmatisme politik, lantas apa bedanya dengan partai politik. Tentu ini kemunduran, untuk tidak mengatakan kemerosotan Muhammadiyah dalam berpolitik. Wallahualam.

MA’MUN MUROD AL-BARBASY 
Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta(UMJ)

Sumber : http://nasional.sindonews.com/read/2014/03/29/18/848783/muhammadiyah-dan-pilpres-2014

Tujuh Pelajaran Kyai Ahmad Dahlan yang Mulai Dilupakan ?

Perlu diketahui bahwa Kiyai Dahlan bermuhammadiyah hanya 11 tahun (1912-1923). Dan selama 11 tahun itu beliau baru sempat membumikan dan mengaplikasikan ayat-ayat Alquran tidak lebih dari 50 ayat.
Di tahun 1964, kami anak-anak muda yang kebetulan menjadi murid salah satu murid Kyai Dahlan yang paling muda (yakni Kyai Raden Haji Hadjid) membukukan pelajaran Kyai Dahlan dalam bentuk stensilan untuk menyong-song Munas Tabligh di Surabaya, menjelang Gestapu. Kami tahu persis bagaimana pelajaran Kyai Dahlan yang dicatat oleh Kyai Raden Haji Hadjid. Kyai Raden Haji Hadjid adalah satu-satunya murid yang sempat mencatat pelajaran-pelajaran Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.
Yang saya tangkap, cara Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam mengungkap ayat Alquran itu cukup menarik. Bayangkan, yang namanya pelajaran Alquran 100 tahun yang lalu, kira-kira seperti apa yang diajarkan di kalangan umat. Paling tinggi mungkin dengan terjemahan, itu sudah lumayan. Kalau pun ada tafsirnya, alhamdulillah. Sebab, yang banyak, Alquran itu hanya untuk hafalan. Namun, Kyai Dahlan, saya sebut, luar biasa dalam menangkap isyarat-isyarat ayat-ayat Alquran.
Ada surat pendek yang paling disenangi makmum kalau surat itu dibaca iman shalat tarawih, yaitu surat Wal-Ashri (Al-Ashr). Surat ini ternyata diajarkan oleh Kyai Dahlan kepada murid-muridnya selama 7 bulan. Dan nama Wal Ashri ini diabadikan dalam satu lembaga yaitu Pengajian Wal Ashri yang sampai sekarang masih ada.
Demikian pula dalam mengungkap surat Al-Maun. Kalau orang bisa mendengarkan kete-rangan tafsirnya saja dari Kyai Dahlan mungkin sudah mengangguk-angguk, tetapi lebih dari itu, ternyata kemudian malah melahirkan satu karya yang luar biasa, berupa karya sosial dan karya pendidikan, dengan mengungkapkan kandungan surat Al-Maun tersebut. Peristiwa ini cukup menggegerkan. Dulu, dikenal pula istilah “ge-gernya Ara’aital”. Alquran yang biasanya ha-nya untuk bacaan, oleh Kyai Dahlan diwujudkan dalam bentuk karya amal.
Konon, kata Cak Nur (Nurcholis Majid), yang pernah mengamati organisasi Islam baik di Indonesia maupun di dunia, organisasi Islam yang terbesar di Indonesia dan dunia adalah Muhammadiyah. Maksudnya, organisasi yang punya warisan yang membekas dalam bentuk amal itu tidak ada yang seperti Muhammadiyah. Bayangkan, perguruan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah berjumlah 130 lebih. Setiap tahun 40 ribu sarjana diwisuda. Setiap tahun berapa juta lulusan sekolah dihasilkan dari sekolah Muhammadiyah.
Tentang hal ini pernah saya gugat di Malang, ketika itu ada Pak Syafii Maarif dan Pak Umar Anggoro Jenie. Dari sekian juta yang telah diluluskan dari sekolah Muhammadiyah berapa yang kembali pada Muhammadiyah? Pak Yunan Yusuf agak bingung juga menjawab pertanyaan ini. Demikian pula, dari sekian jumlah itu berapa yang kemudian menjadi Mujahid Dakwah Muhammadiyah. Kita kesu-litan untuk menjawab.
Pesan akhir pernah disampaikan Kyai Dahlan kepada Ki Bagus Hadikusumo dalam bahasa Jawa: “Gus, pokoke agama iku di-ngamalke” (Ki Bagus, agama itu intinya di-amalkan).
Muhammadiyah menjadi besar dan gagah serta diperhitungkan karena karya amalnya. Kalau umpamanya begitu banyak tokoh-tokoh yang tampil dengan berbagai bidang disiplin ilmu, baik itu ahli tafsir, ahli hadis, dan macam-macam, kalau kita lihat berapa sebenarnya kitab yang dibaca oleh Kyai Ahmad Dahlan, tidak ada 10 kitab. Kalau kita baca bukunya Yusron (Drs. Yusron Asrofie) bisa kita lihat berapa kitab yang dibaca Kyai Dahlan. Namun, yang menarik adalah beliau sanggup menampilkan Islam ini dalam bentuk karya amal.
Inilah rupanya yang sekarang ini menjadi persoalan. Beberapa waktu lalu rombongan dari UMY datang ke Bandung, ke Pondoknya Aa Gym, Darut Tauhid. Alhamdulillah, kesan dari beliau-beliau ini bahwa yang dilakukan Darut Tauhid sejalan dengan faham kita. Dalam hal berdoa ketika menyebut nama Rasulullah, tidak memakai sayyidina. Ada yang berkomentar: “Mengapa di Muhammadiyah tidak ada yang seperti di Darut Tauhid? Yang dikembangkan itu tidak hanya seminar saja, tetapi juga proyek-proyek yang nyata. Koq sepertinya hampir-hampir tidak ada di Muhammadiyah yang seperti itu. Kalau misalnya ditanya, siapa kira-kira pengganti, penerus yang kira-kira siap meneruskan generasi Kyai Dahlan itu. Sebuah tanda tanya besar!
Ketika kami bersama Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah pergi ke Sumatera Barat. Secara jujur beliau mengatakan bahwa di Sumatera Barat sudah hampir habis yang namanya Buya. Tetapi kalau ‘Buya Ekonomi’ banyak. ‘Buya Politik’ juga banyak. Buya yang dikenal sesuai aslinya hampir sudah tidak nampak.
Kita dapati dalam buku Pelajaran Kyai Dahlan, salah satu beliau cara mengajar Alquran adalah selalu dengan menanyakan kepada murid-muridnya apakah sudah diamalkan atau belum ayat-ayat yang telah diajarkan. Jika belum, Kyai Dahlan akan menerangkan lagi, sampai akhirnya murid-muridnya menjawab sudah mengamalkan baru kemudian Kyai Dahlan menambahkan pelajaran yang baru. Itulah mengapa Kyai Dahlan mengajarkan surat Wal-Ashri sampai selama tujuh bulan!
Sayang, pelajaran-pelajaran Kyai Dahlan ini hampir tidak dikenal oleh para aktifis Muhammadiyah sekarang ini.
Ada peristiwa bersejarah yang tidak pernah diungkap oleh sejarah. Tahun 1921 ada Sidang Hoofdbestuur (Pimpinan Pusat) Muham-madiyah. Di situ para Assabiqunal Awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Menariknya adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama, berkumpul. Berarti orang itu memang telah akrab dengan para tokoh Muhammadiyah. Orang itu adalah Haji Agus Salim.
Haji Agus Salim punya gagasan sebaiknya Muhammadiyah menjadi partai politik. Kita tahu, saat itu sedang semangat dan bangkitnya SI. SI sudah tahu kalau Muhammadiyah memiliki ummat. Rupanya Haji Agus Salim mencoba mendekati Muhammadiyah karena punya ummat. Kita tahu kira-kira bagaimana beliau yang diplomat dan politikus ulung itu menjelaskan tentang partai politik. Semua yang hadir dalam sidang itu terpukau dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik.
Kyai Dahlan yang tadinya memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. (Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, pelaku sejarahnya: memukul mejanya keras, apa tidak). Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan. Kalau hadirin bisa menjawab silahkan Muhammadiyah menjadi partai politik. Pertanyaannya sangat sederhana. Pertama, apa saudara-saudara tahu, faham betul apa Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? Yang hadir bungkam semua. Termasuk Haji Agus Salim sendiri tidak sanggup menjawab.
Pak Hadjid ketika bercerita kepada saya mengomentari peristiwa itu: “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu. Bukannya kami tidak tahu pertanyaan itu, tetapi kami tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Kami mengerti betul yang dimaksud pertanyaan itu. Apa Islam itu kami mengerti”.
Saya kemudian juga menjadi tahu apa bentuk pertanyaan itu dalam salah satu pelajaran beliau, ketika beliau mengungkap ayat dalam surat al-An-am ayat 162-163. “Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin”. (Katakanlah hai Muhammad, sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah). Lillah di sini sebagai adamul khasr, menegaskan ‘hanya untuk Allah’, Rabbil ‘alamin, pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; tidak untuk selain Allah. Tidak untuk anak-anakku, tidak untuk isteri, keluargaku, tidak untuk bangsaku, tidak untuk tanah airku. Wa bidzaalika umirtu, dan dengan itu, hidup yang model seperti itu, aku ini diperintah, tidak untuk yang lain-lain.
Melihat maknanya yang demikian, beliau-beliau ini tidak sanggup menjawab dua perta-nyaan Kyai Dahlan tersebut. Apalagi dengan pertanyaan: “Beranikah kamu beragama Islam”. Tidak ada yang berani menjawab!
Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, 57 tahun kemudian terjawab satu. Yaitu pada Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Di sana ada Komisi Ideo-logi yang membahas tentang Prinsip-prinsip Dasar Islam yang dikonsep oleh Pak Djindar Tamimy. Baru di sana itu kita mendapatkan rumusan tentang Islam. Itupun ternyata tidak gampang diterjemahkan. Sebab, kalau bukan Pak Djindar dan orang-orang yang dekat, tidak sanggup mengungkap hasil Muktamar ke-40 tersebut. Namun, sudah menjadi kesepakatan bahwa itu adalah gagasan tentang Islam. Pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab.
sumber : http://www.sangpencerah.com/2014/03/tujuh-pelajaran-kyai-ahmad-dahlan-yang.html

Muhammadiyah sebagai gerakan Amar Mak’ruf Nahi Munkar dalam Politik

Peran Muhammadiyah dalam politik nasional sangat penting. Muhammadiyah memang bukan partai politik. Muhammadiyah lebih merupakan organisasi Islamic-based civil society (masyarakat madani) dan sekaligus sebagai interest group (kelompok kepentingan).

Pada masa Demokrasi Liberal yang berlangsung antara tahun 1945 hingga 1959, hubungan Muhammadiyah dengan Partai Politik serasa amat dekat. Ketika pemerintah mengumumkan berdirinya partai-partai politik pada 3 Nopember 1945, Muhammadiyah ikut mendirikan Masyumi melalui Muktamar Islam Indonesia, 7-8 Nopember 1945, dimana Muhammadiyah menjadi anggota istimewa partai politik ummat Islam pertama tersebut

Tarik ulur kepentingan Muhammadiyah dalam Masyumi memang sedikit mengalami dinamika, misalnya dengan persoalan posisi status keanggotaan Muhammadiyah di Masyumi. Hal ini sempat dibicarakan pada sidang Tanwir Muhammadiyah 1956 di Yogyakarta yang merekomendasikan peninjauan ulang status keanggotaan Muhammadiyah di Masyumi

Persoalan ini tuntas ketika PP Muhammadiyah menyelenggarakan Pleno tahun 1959, yang memutuskan Muhammadiyah keluar dari keanggotaan Masyumi.

Pada masa Demokrasi Terpimpin 1959 hingga 1966. Kepemimpinan nasional terpusat pada presiden. Muhammadiyah tidak sampai turut dalam aksi dukung-mendukung terhadap kepemimpinan nasional waktu itu, yang ternyata banyak melakukan penyimpangan dan terkoreksi pada masa sesudahnya. yang berujung pada lengsernya Bung Karno tahun 1965 setelah peristiwa G.30/S/PKI

Pada masa Orde Baru, terjadi perubahan mengerucut. Paradigma Pembangunan yang mengedepankan pembangunan ekonomi daripada politik, berdampak pada penyederhanaan organisasi sosial politik (lebih tegasnya Partai Politik). Sayangnya, langkah ini banyak berimplikasi pada peminggiran peran partai politik dalam proses pembangunan.

Dan inilah yang melahirkan pemikiran high politik, dimana Muhammadiyah lebih menekankan partisipasinya pada konsep-konsep pembangunan dan wacana intelektual, misalnya tentang konsep kenegaraan, konsep pembangunan politik, pembangunan ekonomi dan seterusnya melalui berbagai aktivitas akademik maupun penelitian dan penulisan baik yang diselenggarakan oleh PTM maupun Persyarikatan

Pada era Reformasi, Peran politik penting Muhammadiyah menunjukkan keberanian yang signifikan seiring dengan arus besar keinginan masyarakat untuk mengembalikan potensi politik bangsa Indonesia. Di sinilah terjadi pematangan dan implementasi gerakan amar makruf nahi munkar dalam aspek politik yang sudah digodok cukup lama pada masa Orde Baru. Pada Sidang Tanwir 1998 di Semarang (setahun setelah jatuhnya rezim Orde Baru), peluang Muhammadiyah untuk menjadi Parpol amat besar. Namun rupanya keputusan Sidang Tanwir tersebut amat dewasa, dengan menyatakan bahwa Muhammadiyah tidak akan menjadi partai politik. Warga Muhammadiyah dipersilahkan mendirikan partai politik atau bergabung dengan partai yang ada, dan secara institusional tidak ada hubungan antara parpol manapun dengan Muhammadiyah.

Konteks amar ma’ruf nahi munkar

Banyak orang berbicara bahwa dakwah amar makruf nahi munkar yang telah menjadi “khittah” Muhammadiyah sejak awal, dimaksudkan untuk membatasi gerakan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan sosial semata. Padahal, apabila kita mau merenungkan, Rasulullah pernah menyatakan bahwa apabila engkau melihat suatu kemungkaran, maka hadapilah dengan tanganmu, dan apabila engkau tidak bisa, maka hadapilah dengan lidahmu, dan apabila tidak bisa, maka hadapilah dengan nuranimu, akan tetapi menghadapi kemungkaran dengan nurani adalah selemah-lemahnya Iman.

Dengan mempertegas komitmen amar makruf nahi munkar pada level yang lebih tinggi, yakni kepemimpinan nasional

  1. Menyimak hadits Nabi di atas, jelas menunjukkan suatu keharusan untuk menempatkan amar makruf dengan tangan (kekuasaan) menjadi prioritas utama.
  2. Melihat perkembangan hasil reformasi selama lima tahun terakhir, menunjukkan hal yang belum menggembirakan. Dalam aspek ekonomi, tidak suatu perbaikan yang signifikan. Hal ini tentunya erat terkait dengan visi dan komitmen presiden sebagai panutan rakyat. Dengan demikian misi amak makruf nahi munkar tidaklah menjadi hilang, malah diberi pemaknaan sesuai konteksnya.

Muhammadiyah ikut  serta  memperjuangkan  kemerdekaan  Republik  Indonesia  sebagai kesatuan  politik.  Muhammadiyah  sejak  berdirinya  selalu  memberikan kontribusi yang besar dalam bidang itu. Politik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia dan bagi Muhammadiyah ada peranan-peranan tertentu dalam sejarahnya dibidang politik

Sumber : Mu’adz As , http://muhammadiyahstudies.blogspot.com/2010/06/muhammadiyah-dalam-politik-nasional.html

 

EKSISTENSI ALLAH DAN FIRMANNYA

(Pengantar Pengajian Tafsir bersama Prof. Dr. Yunan Yusuf)
Kampus UHAMKA, Limau, Ruang Sidang – B
Jumat, 21 Maret 2014

Wujud Tuhan dan Komunikasi dengan-Nya

Sebelum membahas al-Quran, firman Allah yang sangat luar biasa ini, ada baiknya sedikit disinggung tentang Allah, sang pemilik firman itu. Keimanan kepada Allah adal asas utama keimanan  yang harus dijiwai oleh setiap orang muslim. Pertanyaan utamanya adalah: apakah Allah ada atau tidak? Orang-orang materialis-atheis menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Mengapa? Karena memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah dalam standar mereka. Allah/Tuhan tidak konkrit, tidak empiris, tidak ilmiah.
Alasan semacam ini tentu sangat dangkal, apalagi untuk mengukur Allah. Allah adalah dzat yang tak terbatas (unlimited), sedangkan manusia adalah eksistensi yang terbatas ((limited). Bagaimana mungkin yang terbatas akan mengukur yang tak terbatas? Bagaiamana mungkin yang terbatas mewadahi dan menampung yang tak terbatas?Selanjutnya adalah tentang konsep “ada”. Betapa dangkalnya jika yang dinyatakan “ada” hanya diukur dengan yang terlihat, yang teraba, yang tertangkap pancaindera? Begitu banyak realitas di muka bumi ini yang ada, tapi tak tertangkap pancaindera. Utara, selatan, timur, bukankah semua itu ada? Tapi apa wujudnya? Kenapa kita percaya? Bukankah kawan kita yang sebagian tak hadir dalam pengajian ini juga kita katakan ada? Mereka ada. Hanya saja tidak di sini, kan? Tapi bukan berarti mereka tidak ada. Mereka ada di tempat lain.Jadi banyak pengertian tentang “ada” ini. Ada “ada” konkrit, ada “ada” abstrak. Untuk menangkap “ada” yang konkrit saja pancaindera terbatas, bagaimana mau menangkap “ada” yang abastrak, bagaimana mungkin juga menangkap Tuhan/Allah? Untuk mengungkap misteri yang ada di bumi saja tidak semuanya bisa, bagaimana mau mengungkap Allah?Karena itulah manusia harus menyadari indera lain yang ada dalam dirinya. Manusia tidak hanya terdiri dari indera fisik, tapi di sana ada psikis, ada jiwa, ada yang namanya hati. Sekarang sederhananya begini, kita pasti tahu apa itu rasa gula, ya? Manis. Betul, ya? Tapi kalau saya tanya, apakah definisi manis? Pasti tak ada yang bisa jawab keculai dengan menyebutkan seluruh negasinya yang sangat banyak dan ini tentu bukanlah suatu definisi yang benar. Lantas bagiamana jika ada yang ingin tahu rasa manis? Masukkan saja satu sendok madu ke dalam mulutnya. Suruh dia merasakan. Maka dia akan mengerti betul apa yang disebut manis.

Nah, mengenal Allah juga bisa dipahami seperti itu. Kita harus tercebur dalam keimanan, dalam ibadah, dan merasakan kehadiran Allah di sana. Bukan hanya itu. Kita dapat berkomunikasi dengan Allah. Hebatnya, Allah sendiri sudah memberitahu bagaimana kita berkomunikasi dengannya. Melalui shalat kita dapat berkomunikasi dengan-Nya. Shalat adalah cara khusus untuk berkomunikasi dengan-Nya. Dengan cara inilah, tidak dengan yang lain, manusia dapat berkomunikasi dengan Allah.

Mari kita perhatikan. Bukankah manusia ini mampu berkomunikasi dengan hewan? Bisa Anda berkomunikasi dengan kucing? Dengan memanggilnya “mpus” misalnya. Ada juga bisa memberikan isyarat atau bunyian tertentu untuk berkomunikasi dengannya. Dengan ayam, dengan anjing, dan seterusnya. Yah, manusia bisa berkomunikasi dengan hewan. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan cara tersendiri, dengan cara yang khas yang bisa diterima oleh hewan-hewan itu. Tidak dengan cara sebagaimana manusia berkomunikasi dengan manusia lain. Jika berkomunikasi dengan hewan saja bisa, masa iya tidak bisa berkomunikasi dengan Allah? Apalagi jika caranya telah diberitahu Allah.

Sejarah Turunnya al-Qur’an
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami turunkan al-Quran dan sesunggunya kami senantiasa menjaganya”. Dalam firman ini Allah menggunakan kata “inna (kami)” bukan “ana (saya)”. Dalam redaksi yang semacam ini, dengan menggunakan “inna” biasanya dimaksudkan bahwa pekerjaan yang ada dilakukan oleh Allah dengan melibatkan pihak lain. Dalam konteks ini, pada saat menurunkan al-Quran Allah melibatkan Jibril. Kemudian dalam hal “menjaga al-Quran” tentu saja melibatkan kita semua, kaum muslimin.

Ada yang bertanya, bagaimana mungkin al-Quran itu adalah benar-benar firman Allah, bahkan teks-nya benar-benar berasal dari Allah? Bukankah Allah tidak sama dengan makhluk? Bukankah berarti firman yang asli tak ada suara, tak ada huruf? Bagaimana Jibril menangkap semuanya? Apakah Jibril yang membahasakan al-Quran?

Pertanyaan ini sekali lagi juga terasa dangkal. Betapa sekarang kecanggihan teknologi seharusnya memudahkan kita untuk mempercayai hal-hal yang ghaib, bukannya malah menyangsikannya. Ambil contoh mesin fax. Kalau kita mengirim fax, apakah kertas dan tulisan yang kita masukkan ke mesin fax yang kita punya kemudian melayang ke sana? Tidak kan? Lantas apa yang menuju ke sana sehingga di mesin fax yang berada di tempat yang jauh itu  tiba-tiba keluar tulisan yang sama, persis dengan tulisan yang kita kirim?

Di sini ada teori energi dan materi. Energi adalah materi yang mengembang, materi adalah energy yang memadat. Tulisan yang kita kirim berubah menjadi energi, entah macam apa wujudnya ini, kan? Sangat abstrak dan hanya bisa dijelaskan dengan teori, bahkan tentu saja tidak semua orang paham. Kemudian ia memadat dan diterima kembali sebagai tulisan sebagaimana aslinya. Nah, al-Quran kurang lebih demikian. Semua itu asli dari Allah. Dalam bentuk energi, abstrak, tidak berhuruf, tidak bersuara, bahkan tidak semua orang juga mengerti, kecuali mereka yang memahami teori kemahakuasaan Allah. Kemudian ditransfer kepada Jibril, dan selanjutkan diteruskan kepada Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran, Bebas dari Kritik Filologi
Untuk menguji kevalidan sebuah kitab suci, ada tiga pertanyaan kunci yang dilontarkan oleh para ahli filologi: (1) Siapa penerima pertama kitab suci itu? (2) Kapan kitab suci itu diturunkan? (3) Kapan kitab itu dituliskan? Ketiga pertanyaan ini adalah parameter ilmiah yang menjadi ukuran apakah sebuah kitab suci dapat dibenarkan atau tidak. Mari kita uji satu persatu kitab suci yang ada dengan ketiga pertanyaan ini.

Pertama, Veda, kitab suci umat Hindu. Para tokoh Budha tidak bisa menjelaskan siapa penerima pertama kitab suci ini. Dalam konsep Hindu, wahyu Tuhan turun pada alam. Jadi semesta ala mini penerima wahyu. Selanjutnya Veda ditemukan pertama kali 5000 SM. Jadi ketiga pertanyaan ini tidak mempu terjawab untuk kitab Veda. Jarak antara Veda dengan masa ditemukannya juga sangat jauh yang tentu saja akan semakin sulit, kalau malah tidak tak mungkin, untuk mengungkap data-data yang berkaitan dengan Veda.

Kedua, Tripitaka, kitab suci umat Budha. Penerima pertama kitab Tripitaka ini konon adalah Sidharta Gautama. Disebutkan bahwa dia adalah putra seorang raja yang kemudian menjauhkan diri dari kemewahan dunia dan hidup dalam naungan spiritual. Namun demikian, jejak Sidharta hari ini sudah tak ada lagi. Kuburannya tak ditemukan secara pasti. Sidharta menjadi semacam dongen legenda. Kemudian Tripitaka pertama kali ditemukan 400 SM.

Ketiga, Bible, kitab suci umat Kristen. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Dalam konsep Kristen, wahyu Tuhan bukan kitab suci, tapi justru Yesus itu sendiri. Dengan demikian, penerima wahyunya berarti ibunda Yesus, Maria. Karena itulah Maria menjadi unsur penting dalam doktrin trinitas Kristen. Namun sekali lagi hari ini jejak Yesus juga tak jelas rimbanya. Kuburan Yesus tak pernah ditemukan. Lantas kapan Bible pertama kali ditulis? Bible ditulis pertama kalinya 300 tahun setelah penyaliban Yesus. Betapa jauhnya jarak ini. Apakah jarak yang sangat jauh ini masih bisa menjamin keorisinalan Bible? Tentu sangat mustahil! Bible ini adalah reportase tentang sejarah Yesus. Jadi kalau dalam Islam ini seperti “Sunah/Hadits”. Itupun sunah yang dha’if (disangsikan).

Keempat, al-Quran, kitab suci umat Islam. Penerima pertama al-Quran sangat jelas, yaitu Nabi Muhammad SAW. Semua hal yang berkenaan dengan Muhammad sangat jelas. Sejarahnya begitu berlimpah. Orangtuanya, saudara-saudaranya, dan semua jejak yang berkenaan dengan Muhammad sangat jelas dan dapat dibuktikan hingga hari ini. Bahkan tempat menerima wahyu pertama juga masih utuh sampai sekarang. Makam Muhammad dan berbagai jejak sejarahnya masih ada hingga sekarang.

Kapan al-Quran mulai ditulis? Al-Quran ditulis sejak diturunkan. Seketika setelah Muhammad menerima wahyu langsung memanggil para skretaris beliau, salah satunya adalah Zaid bin Tsabit. Al-Quran masih terpelihara hingga sekarang dengan bahasa asli pada saat diturunkan, dan bahasa itu masih hidup digunakan masyarakat hingga hari ini. Bukan hanya ditulis, al-Quran juga dihafal oleh ratusan, bahkan ribuan orang sejak diturunkan hingga hari ini. Sekali lagi  hingga hari ini. Jadi hanya al-Quran-lah satu-satunya kitab suci yang dapat dibuktikan secara ilmiah yang berarti juga paling otoritatif untuk dipercaya oleh umat manusia.

Membuka Mata Hati, Menyambut Cahaya Hikmah

Banyak manusia yang mencari-cari dalam hal takdir, Segala anggapan manusia yang keliru terhadap takdir Allah hanya bisa dijawab dengan ,” Sesungguhnya Allah tidak pernah membebanimu dengan beban apapun,kecuali kamu tidak memiliki sarana dan kemampuan,kamu akan dibebaskan dari beban tersebut. Jika anda pergunakan sarana itu untuk mengapai keinginan anda, Jangan lupa pula untuk mempergunakan itu untuk menjalankan apa yang diwajibkan kepada anda.

Berhati-hatilah untuk tidak bergantung kepada suatu perkara yang tidak memberikan manfaat di akhirat yang hanya mengurangi makna kehidupan anda dan menghilangkan hak-hak anda. Anda harus bergerak dan bertindak cepat untuk kepentingan anda. Bersegerahlah , Sebab dibalik itu ada manfaat yang besar. Cara terampuh untung menghilangkan kemalasan adalah dengan membayangkan ganjaran yang terlepas dari genggaman orang beramal yang semestinya didapatkan. Itu akan menjadi senjata yang kuat untuk mendorong agar anda tak termasuk orang yang lalai.

Untuk yang sampai saat ini memiliki semangat yang sedikit, Bukalah pikiran , Galihlah pelajaran lewat nata hati,agar dapat melihat apa yang diinginkan . Jika merasa ada hambatan dalam batin, mintalah bantuan lewat kelembutan jiwa, bangunlah sebelum fajar menjelang agar anda bisa melihat kendaraan yang menghantarkan anda kepada keuntungan, dan bergabunglah dengan orang-orang yang beristigfar meskipun hanya beberapa langkah dan bergabung dalam barisan mujahidin.

Sumber Shaidul Khatir

Berdo’alah,Karena Do’a Itu Senjata Sakti

Do’a itu senjata sakti dan kadang disepelekan. Do’a juga ibadah,bahkan ibadah yang paling agung. Seperti disebutkan salah satu hadits. Do’a itu senjata yang tidak pernah meleset,panah yang tidak pernah gagal mengenai sasaran,benteng kokoh tempat berlindung insane muslim dan gerakan dakwah dari tindakan maker pembuat maker,kesombongan orang sombong.

Kepada siapa anda berdo’a, jika tidak kepada dzat yang memiliki segala-galanya? kepada isapa anda berlindung, jika tidak kepada Allah yang merupakan pemilik langit,dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya.

Jika muslim terbiasa banyak berdo’a dan berdzikir,maka dikabulkan do’anya.umar bin khaththab berkata , “aku tidak ambil pusing dengan pengkabulan do’a dan lebih concern dengan do’a”.

“ berdo’alah kepada-Ku,niscaya aku kabulkan do’a kalian”(Ghafir : 60).

Do’a menyebabkan datangnya kebaikan,kemenangan,solusi,manusia mendapat petunjuk,dan kelancaran di seluruh aktivitasnya,dakwah,tarbiyah,jihad,amar ma’ruf nahi munkar.

Dengan do’a Allah menyelamatkan Nabi Nuh As beserta kaum Mukminin dan menenggelamkan orang kafir,dengan do’a Allah menghilangkan musibah (penyakit) Nabi Ayub,dengan do’a Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Fir’aun  dan pasukannya. Kesimpulanya ,do’a adalah faktor penting datangnya kebaikan,hilangnya keburukan,turunnya rahmat,sirnanya penderitaan,dan tercapainya kemenangan.

Sumber Dr. Najih Ibrahim