Category Archives: Artikel

Konsolidasi Dakwah Mencapai Khairu Ummah

Diperlukan konsolidadi dakwah untuk mencapai khairu umah. Jangan sampai jumlah partai Islam banyak, tapi tak menunjukkan tarinya

Oleh: M. Dwi Fajri

DAKWAH adalah ikhtiar merubah kondisi umat manusia kepada yang lebih baik. Baik dalam pengertian ini tidak saja dalam hal akhlak dan spiritualitas, tapi juga baik dalam pengertian mapan ilmu pengetahuan dan teknologi, mapan politik-ekonomi-budaya, dan sebagainya. Karena dengan kemapanan itu semua akan terpandang dan akan menempatkan mereka (khususnya Islam) pada posisi terhormat di mata dunia dan pada saat yang bersamaan akan mencapai gelar khairu ummah seperti yang dinyatakan Allah dalam Al-Quran.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Ali Imran: 110)

Seandainya kita mau meluangkan waktu barang sejenak untuk mengevaluasi dakwah (kondisi umat kita), maka nyatalah bahwa buah renungan kita sungguh memperihatinkan.

Betapa tidak, kondisi umat kita, di hampir semua lini kehidupan, berada di tepi jurang peradaban, yang nyaris terjatuh ke dalamnya. Dari sisi ekonomi, khususnya Indonesia, angka kemiskinan sangat tinggi dengan (dipastikan) umat Islam sebagai mayoritasnya.

Dari sisi politik tak terlalu menggembirakan, meski kita tahu cukup besar jumlah partai yang mengatasnamakan Islam, peran maksimalnya lebih pada pengumpul suara, sementara kemanfaatanya bagi umat Islam belum sepenuhnya terasa. Yang terbaru adalah saat Islam dipojokkan lewat kasus terorisme, partai Islam tidak menunjukkan taringnya.

Bahkan saat wacana pengawasaan dakwah sekalipun, sebagai buntut dari wacana terorisme, kita belum melihat kharisma partai Islam mempengaruhi wacana itu. Hingga akhirnya Islam benar-benar di pojok; kita seperti buih di samudra, menggumpal dan terlihat banyak, tapi cukup satu hempasan kita tercerai berai.

Oleh sebab itu, agar kita tak benar-benar jadi buih dan jatuh ke dalam jurang, konsolidasi umat menjadi satu keharusan. Konsolidasi yang tidak hanya bersifat fisik, tapi juga konsolidasi dalam kesatuan ide dan gerakan. Ada banyak agenda yang dengan konsolidasi pun belum tentu terselesaikan, apalagi dalam keterpecahbelahan. Karenanya menyatukan potensi umat, seperti lembaga pendidikan, ormas keagamaan, partai politik, pengusaha, dll adalah sebuah keharusan agar ikhtiar memajukan umat dapat diwujudkan. Dengan begitu, persoalan kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, fitnah terhadap umat, dll dapat dituntaskan, dan khairu ummah dapat menjadi kenyataan.

Agenda menyatukan umat bukanlah perkara mudah. Seruan dan imbauan seringkali disampaikan oleh pemuka agama, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Kenyataannya, seruan itu dianggap angin lalu oleh sebagian umat Islam. Sehingga anggapan umat Islam terpecah mendapat pembenaran.

Bila kita telisik, persoalan yang dianggap sebagai pemecah belah sesungguhnya bukanlah persoalan yang prinsipil yang menjadi pokok ajaran Islam semisal rukun iman dan rukun Islam, tapi justru hal-hal sepele/furuiyah yang sering diributkan. Anehnya, sebagian umat menyadari kejadian itu, tapi sayang sebagian mereka tidak mau, atau tidak mendapatkan tempat aktualisasi pendapatnya itu.

Menyadari hal yang demikian, sebagai bagian dari umat kita harus menyadari beberapa hal:

Pertama, sepanjang persoalan yang diperdebatkan bukan persoalan fundamental, seperti Rukun Iman dan Rukun Islam, kita tidak perlu bersitegang dan berpecah hingga melupakan urusan lain yang penting. Andaipun terpaksa berdebat, dalam Islam dianjurkan dengan cara yang baik (wajadilhum billati hiya ahsan).

Kedua, terkait dengan yang pertama, masih ada persoalan lebih penting yang dihadapi umat Islam yang tidak mungkin diselesaikan dengan keterpecahbelahan, misalnya kemiskinan, pengangguran, lingkungan, dll. Umat Islam mesti menyadari bahwa perbedaan adalah hal yang niscaya, tapi kita tetap bisa bersatu meski berbeda dalam beberapa hal.

Ketiga, Kita memang tidak bisa merubah umat agar menjadi baik semua, atau menjadikan semua manusia sekeyakinan dan seide dengan kita. Itu semua menentang takdir Allah yang sudah menetapkan manusia beragam (QS. Al-Hujrat: 13). Namun demikian tidak berarti kita berpasrah pada kenyataan yang ada sehingga enggan berusaha dengan mengatasnamakan penerimaan terhadap takdir. Tidak pula sebaliknya berusaha sekeras tenaga dan pikiran tanpa diimbangi pemahaman tentang apa yang disebut dengan takdir. Karena kita berusaha dalam bentuk apapun mesti ada dalam bingkai keseimbangan usaha dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan begitu, umat terbaik yang ditandai dengan ekonomi yang baik, dalam pengertian bebas dari pengangguran dan lepas dari kemiskinan, serta umat yang konsolidatif yang diindikasikan dengan semua unsur umat (pengusaha, pendidik, politisi, dll) ber-ihtimam (memiliki kepedulian) terhadap Islam, maka cita bersama itu (khaira ummah) hanya menunggu waktu untuk menjadi kenyataan.*

Penulis adalah dosen UHAMKA

Pernah dimuat Hidayatulah.com , Kamis, 12 Juli 2012

Kisah Al-Arqam bin Abil Arqam yang Rumahnya Menjadi Pusat Dakwah Pertama

 

Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk orang – orang yang pertama memeluk Islam. Ada ulama yang mengatakan ia termasuk orang ketujuh yang memeluk Islam, sementara ulama yang lain mengatakan ia termasuk orang kesebelas. Namun yang jelas, rumah Al-Arqam adalah rumah tempat pusat dakwah pertama. Di rumah yang penuh berkah inilah, Rasulullah Saw mengajarkan Islam secara diam – diam kepada para pemeluk Islam pertama.

Di saat Islam baru mulai diajarkan, Rasulullah Saw memerlukan sebuah tempat yang tenang untuk mengajarkan agama Allah ini. Maklumlah, saat itu seperti pemeluk Islam dimusuhi dan disiksa kaum musyrik. Akhirnya beliau memutuskan bahwa rumah Al-Arqam bin Abil Arqam yang terletak di dataran Shafa ini adalah tempat yang cocok. Tempat ini letaknya agak terpencil dan tak meimbulkan kecurigaan. Terbukti selama rumah itu digunakan tak ada satu pun tindakan penggerebekan dilakukan orang kafir.

Banyak sekali orang memeluk Islam di rumah Al-Arqam yang diberkahi itu. Salah satu orang terakhir yang memeluk Islam di tempat itu adalah Umar bin Khattab. Setelah Umar memeluk Islam, dakwah mulai dilakukan secara terang – terangan. Ketika itu jumlah Kaum Muslimin telah mencapai 40 orang. Jadi sebelum itu, rumah Arqam telah menjadi sekolah dan tempat berlindung bagi 40 orang pemeluk Islam pertama.

Ke – 40 orang pemeluk Islam pertama itu dikenal dengan nama Assabiqunal Awwalun. Mereka beriman ketika semua orang lain masih ingkar. Kelak mereka harus akan mengalami hijrah ke seberang lautan di Habasyah dan menempuh berbagai ujian berat lainnya.

Al-Arqam bin Abil Arqam termasuk kelompok Muhajirin pertama yang hijrah ke Madinah. Ia juga terjun dalam Pertempuran Badar. Di perang ini, Rasulullah Saw memberikan rampasan perang berupa pedang kepada Al-Arqam. Baktinya kepada Islam diteruskan dengan terjun ke semua pertempuran genting yang lain.

Para sejarawan masih berselisih tentang kapan Al-Arqam wafat. Ada yang bilang ia wafat pada hari yang sama dengan wafatnya Abu Bakar Ash-Shidiq. Ada juga yang mengatakan ia wafat setelah Abu Bakar di usia 80 tahun lebih. Ketika wafat, salah satu yang hadir dalam menshalatkan jenazahnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Rupanya wasiat Al-Arqam kepada Sa’ad adalah bila ia wafat, Sa’ad diminta menshalati dan mendoakan jenazahnya.

Sumber : kisah nabi dan sahabatnya

MEMAHAMI HIKMAH

Saya pernah ditanya seseorang tentang perkataan orang bijak, “ Barang siapa yang tidak berhati-hati dengan akalnya,akan dihancurkan olehnya.” Apa makna perkataan itu? Saya lama memikirkannya,akhirnya terkuaklah maknanya. Jika anda memaksakan diri untuk mengetahui Zat Allah dengan akal anda,anda dapat terjebak dalam tindakan menyerupakan Allah dengan Makhluk-Nya. Maka “berhati-hatilah” adalah sebaiknya seseorang melihat dengan bening dan jernih bahwasanya Allah mustahil memiliki bentuk jasad atau yang serupa dengan itu.

Jika melihat kuasa Allah , orang cerdas akan melihat banyak hal yang akalnya sendiri tidak mampu menangkapnya ,jika dihadapkan kepada akal,semua itu terlihat tak ada hikmahnya. Oleh karna itu waspadalah terhadap akal . Katakanlah kepadanya, “Bukankah telah jelas bahwa Dia adalah Raja Diraja,Mahabijksana,dan tek pernah melakukan segala sesuatu dengan sia-sia?”. Kemudian katakan, “dalam kuasa-Nya tersembunyi banyak hikmah yang tidak sanggup engkau tangkap. Karnanya,engkau tinggal menyerahkan segalanya sebab Dia Mahabijaksana”.

Banyak manusia yang melihat semua yang diciptakan Allah dari sudut pandang akalnya sehingga mereka membangkang. Banyak yang menganggap bahwa banyak hal yang diciptakan tak mengandung hkmah.penyebabnya adalah anggapan mereka bahwa akal adalah senjata utama sehingga mereka menganalogikan kuasa Tuhan dengan perbuatan makhluknya.

Sumber shaidul khathir