Membuka Mata Hati, Menyambut Cahaya Hikmah

Banyak manusia yang mencari-cari dalam hal takdir, Segala anggapan manusia yang keliru terhadap takdir Allah hanya bisa dijawab dengan ,” Sesungguhnya Allah tidak pernah membebanimu dengan beban apapun,kecuali kamu tidak memiliki sarana dan kemampuan,kamu akan dibebaskan dari beban tersebut. Jika anda pergunakan sarana itu untuk mengapai keinginan anda, Jangan lupa pula untuk mempergunakan itu untuk menjalankan apa yang diwajibkan kepada anda.

Berhati-hatilah untuk tidak bergantung kepada suatu perkara yang tidak memberikan manfaat di akhirat yang hanya mengurangi makna kehidupan anda dan menghilangkan hak-hak anda. Anda harus bergerak dan bertindak cepat untuk kepentingan anda. Bersegerahlah , Sebab dibalik itu ada manfaat yang besar. Cara terampuh untung menghilangkan kemalasan adalah dengan membayangkan ganjaran yang terlepas dari genggaman orang beramal yang semestinya didapatkan. Itu akan menjadi senjata yang kuat untuk mendorong agar anda tak termasuk orang yang lalai.

Untuk yang sampai saat ini memiliki semangat yang sedikit, Bukalah pikiran , Galihlah pelajaran lewat nata hati,agar dapat melihat apa yang diinginkan . Jika merasa ada hambatan dalam batin, mintalah bantuan lewat kelembutan jiwa, bangunlah sebelum fajar menjelang agar anda bisa melihat kendaraan yang menghantarkan anda kepada keuntungan, dan bergabunglah dengan orang-orang yang beristigfar meskipun hanya beberapa langkah dan bergabung dalam barisan mujahidin.

Sumber Shaidul Khatir

Berdo’alah,Karena Do’a Itu Senjata Sakti

Do’a itu senjata sakti dan kadang disepelekan. Do’a juga ibadah,bahkan ibadah yang paling agung. Seperti disebutkan salah satu hadits. Do’a itu senjata yang tidak pernah meleset,panah yang tidak pernah gagal mengenai sasaran,benteng kokoh tempat berlindung insane muslim dan gerakan dakwah dari tindakan maker pembuat maker,kesombongan orang sombong.

Kepada siapa anda berdo’a, jika tidak kepada dzat yang memiliki segala-galanya? kepada isapa anda berlindung, jika tidak kepada Allah yang merupakan pemilik langit,dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya.

Jika muslim terbiasa banyak berdo’a dan berdzikir,maka dikabulkan do’anya.umar bin khaththab berkata , “aku tidak ambil pusing dengan pengkabulan do’a dan lebih concern dengan do’a”.

“ berdo’alah kepada-Ku,niscaya aku kabulkan do’a kalian”(Ghafir : 60).

Do’a menyebabkan datangnya kebaikan,kemenangan,solusi,manusia mendapat petunjuk,dan kelancaran di seluruh aktivitasnya,dakwah,tarbiyah,jihad,amar ma’ruf nahi munkar.

Dengan do’a Allah menyelamatkan Nabi Nuh As beserta kaum Mukminin dan menenggelamkan orang kafir,dengan do’a Allah menghilangkan musibah (penyakit) Nabi Ayub,dengan do’a Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Fir’aun  dan pasukannya. Kesimpulanya ,do’a adalah faktor penting datangnya kebaikan,hilangnya keburukan,turunnya rahmat,sirnanya penderitaan,dan tercapainya kemenangan.

Sumber Dr. Najih Ibrahim

Muhammadiyah Akan Terbitkan Transaksi E-Money

JAKARTA_PDM: Besarnya potensi yang dimiliki Muhammadiyah mendorong Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah (MEK) akan menerbitkan e-money Muhammadiyah sebagai uang komunitas untuk bertransaksi.

Ketua MEK, Syafrudin Anhar dalam keterangan release-nya hari ini mengatakan, keinginan Muhammadiyah untuk menerbitkan e-money Muhammadiyah akan dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MEK dan seminar nasional dengan tema: Menggagas Format E-Money Muhammadiyah Menuju  Financial Inclusion dan Less Cash Society, yang diselenggarakan pada tanggal 18 – 20 April 2014 di kampus Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta.

“Untuk menciptakan e-money Muhammadiyah, MEK akan berkomunikasi dengan pihak regulasi baik OJK dan Bank Indonesia  dalam mengimplementasikannya,”terang Syafrudin Anhar dalam rilisnya Selasa (11/03/2014).

Acara seminar nasional e-money Muhammadiyah akan dihadiri oleh Menko Perekonomian Hatta Radjasa sebagai keynote Speaker dan para narasumber Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliamad D Hadad, Ahmad Riawan Amin (Penasehat Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah), Aries Mufti (Ketua Umum Absindo) dan Benny Witjaksono (Direktur Utama Bank Mega Syariah)

Terkait dengan e-money Muhammadiyah menurutnya, sejalan dengan program lembaga lembaga negara seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Kementerian keuangan yang mencanangkan program financial inclusion. Bagi Muhammadiyah, financial inclusion dimaknai sebagai langkah awal dan titik point dalam menciptakan uang komunitas.

Dengan adanya e-money Muhammadiyah, Syafrudin berkeinginan, agar ada kemudahan warga Muhammadiyah dalam  bertransaksi dan sekaligus mensosialisasikan financial inclusion keranah warga Muhammadiyah.

Penerbitan e-money Muhammadiyah  menurut Syafrudin untuk meminimalkan beredarnya uang, mencegah korupsi, pencucian uang dan terorisme. Selain itu mengukur transaksi keuangan di lingkungan Muhammadiyah secara transparan.

“Ketiga, menyamakan persepsi serta arah gerak dan langkah Muhammadiyah dari pusat sampai ke daerah dalam mengembangkan program-program pembangunan ekonomi persyarikatan,”ujarnya.

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia,  Muhammadiyah—memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dalam mendorong laju ekonomi umat.  Apalagi dari segi pendidikan misalnya amal usaha Muhammadiyah (AUM) mencapai 3.370 TK, 2901 SD/MI, 1.761 SMP / MTs, 941 SMA/MA/SMK, 67 Pondok Pesantren, dan 167 perguruan tinggi. Pada sektor kesehatan tercatat sebanyak 47 Rumah Sakit (PKU), 217 Poliklinik, 82 klinis bersalin.

Sementara di sektor ekonomi ada 1 bank syariah (saham Muhammadiyah 2,5 %), 26 BPR/BPRS dan 275 BMT/BTM, 1 Induk Koperasi BTM, 81 Koperasi Syariah, 22 Minimart dan 5 kedai pesisir.

Demikian juga pada wilayah sosial, Muhammadiyah memiliki lebih 400 buah panti asuhan, rumah singgah dan sejenisnya.  Takaran kasar total asset Muhammadiyah itu lebih dari Rp. 20 Triliun.***

Redaktur    : Imran Nasution
Sumber      : Hidayatullah.com

Rujukan Download

Dokumen Muhammadiyah

Tanfidz 2010 Finish

PHIWM

Ketentuan Majelis Pendidikan Tinggi Penjabaran Pedoman PP Muhammadiyah

Tanwir 2007

Pedoman PTM

Visi dan Karakter Bangsa Oleh Muhammadiyah

 

 

 

 

 

 

Konsolidasi Dakwah Mencapai Khairu Ummah

Diperlukan konsolidadi dakwah untuk mencapai khairu umah. Jangan sampai jumlah partai Islam banyak, tapi tak menunjukkan tarinya

Oleh: M. Dwi Fajri

DAKWAH adalah ikhtiar merubah kondisi umat manusia kepada yang lebih baik. Baik dalam pengertian ini tidak saja dalam hal akhlak dan spiritualitas, tapi juga baik dalam pengertian mapan ilmu pengetahuan dan teknologi, mapan politik-ekonomi-budaya, dan sebagainya. Karena dengan kemapanan itu semua akan terpandang dan akan menempatkan mereka (khususnya Islam) pada posisi terhormat di mata dunia dan pada saat yang bersamaan akan mencapai gelar khairu ummah seperti yang dinyatakan Allah dalam Al-Quran.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Ali Imran: 110)

Seandainya kita mau meluangkan waktu barang sejenak untuk mengevaluasi dakwah (kondisi umat kita), maka nyatalah bahwa buah renungan kita sungguh memperihatinkan.

Betapa tidak, kondisi umat kita, di hampir semua lini kehidupan, berada di tepi jurang peradaban, yang nyaris terjatuh ke dalamnya. Dari sisi ekonomi, khususnya Indonesia, angka kemiskinan sangat tinggi dengan (dipastikan) umat Islam sebagai mayoritasnya.

Dari sisi politik tak terlalu menggembirakan, meski kita tahu cukup besar jumlah partai yang mengatasnamakan Islam, peran maksimalnya lebih pada pengumpul suara, sementara kemanfaatanya bagi umat Islam belum sepenuhnya terasa. Yang terbaru adalah saat Islam dipojokkan lewat kasus terorisme, partai Islam tidak menunjukkan taringnya.

Bahkan saat wacana pengawasaan dakwah sekalipun, sebagai buntut dari wacana terorisme, kita belum melihat kharisma partai Islam mempengaruhi wacana itu. Hingga akhirnya Islam benar-benar di pojok; kita seperti buih di samudra, menggumpal dan terlihat banyak, tapi cukup satu hempasan kita tercerai berai.

Oleh sebab itu, agar kita tak benar-benar jadi buih dan jatuh ke dalam jurang, konsolidasi umat menjadi satu keharusan. Konsolidasi yang tidak hanya bersifat fisik, tapi juga konsolidasi dalam kesatuan ide dan gerakan. Ada banyak agenda yang dengan konsolidasi pun belum tentu terselesaikan, apalagi dalam keterpecahbelahan. Karenanya menyatukan potensi umat, seperti lembaga pendidikan, ormas keagamaan, partai politik, pengusaha, dll adalah sebuah keharusan agar ikhtiar memajukan umat dapat diwujudkan. Dengan begitu, persoalan kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, fitnah terhadap umat, dll dapat dituntaskan, dan khairu ummah dapat menjadi kenyataan.

Agenda menyatukan umat bukanlah perkara mudah. Seruan dan imbauan seringkali disampaikan oleh pemuka agama, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Kenyataannya, seruan itu dianggap angin lalu oleh sebagian umat Islam. Sehingga anggapan umat Islam terpecah mendapat pembenaran.

Bila kita telisik, persoalan yang dianggap sebagai pemecah belah sesungguhnya bukanlah persoalan yang prinsipil yang menjadi pokok ajaran Islam semisal rukun iman dan rukun Islam, tapi justru hal-hal sepele/furuiyah yang sering diributkan. Anehnya, sebagian umat menyadari kejadian itu, tapi sayang sebagian mereka tidak mau, atau tidak mendapatkan tempat aktualisasi pendapatnya itu.

Menyadari hal yang demikian, sebagai bagian dari umat kita harus menyadari beberapa hal:

Pertama, sepanjang persoalan yang diperdebatkan bukan persoalan fundamental, seperti Rukun Iman dan Rukun Islam, kita tidak perlu bersitegang dan berpecah hingga melupakan urusan lain yang penting. Andaipun terpaksa berdebat, dalam Islam dianjurkan dengan cara yang baik (wajadilhum billati hiya ahsan).

Kedua, terkait dengan yang pertama, masih ada persoalan lebih penting yang dihadapi umat Islam yang tidak mungkin diselesaikan dengan keterpecahbelahan, misalnya kemiskinan, pengangguran, lingkungan, dll. Umat Islam mesti menyadari bahwa perbedaan adalah hal yang niscaya, tapi kita tetap bisa bersatu meski berbeda dalam beberapa hal.

Ketiga, Kita memang tidak bisa merubah umat agar menjadi baik semua, atau menjadikan semua manusia sekeyakinan dan seide dengan kita. Itu semua menentang takdir Allah yang sudah menetapkan manusia beragam (QS. Al-Hujrat: 13). Namun demikian tidak berarti kita berpasrah pada kenyataan yang ada sehingga enggan berusaha dengan mengatasnamakan penerimaan terhadap takdir. Tidak pula sebaliknya berusaha sekeras tenaga dan pikiran tanpa diimbangi pemahaman tentang apa yang disebut dengan takdir. Karena kita berusaha dalam bentuk apapun mesti ada dalam bingkai keseimbangan usaha dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan begitu, umat terbaik yang ditandai dengan ekonomi yang baik, dalam pengertian bebas dari pengangguran dan lepas dari kemiskinan, serta umat yang konsolidatif yang diindikasikan dengan semua unsur umat (pengusaha, pendidik, politisi, dll) ber-ihtimam (memiliki kepedulian) terhadap Islam, maka cita bersama itu (khaira ummah) hanya menunggu waktu untuk menjadi kenyataan.*

Penulis adalah dosen UHAMKA

Pernah dimuat Hidayatulah.com , Kamis, 12 Juli 2012

Struktur Organisasi

 ORGANISASI MUHAMMADIYAH

  1. Jaringan Kelembagaan Muhammadiyah
    • Pimpinan Pusat
    • Pimpinaan Wilayah
    • Pimpinaan Daerah
    • Pimpinan Cabang
    • Pimpinan Ranting
    • Jama’ah Muhammadiyah
  2. Pembantu Pimpinan Persyarikatan
    • Majelis
      • Majelis Tarjih dan Tajdid
      • Majelis Tabligh
      • Majelis Pendidikan Tinggi
      • Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
      • Majelis Pendidikan Kader
      • Majelis Pelayanan Sosial
      • Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan
      • Majelis Pemberdayaan Masyarakat
      • Majelis Pembina Kesehatan Umum
      • Majelis Pustaka dan Informasi
      • Majelis Lingkungan Hidup
      • Majelis Hukum Dan Hak Asasi Manusia
      • Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
    • Lembaga
      • Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
      • Lembaga Pembina dan Pengawasan Keuangan
      • Lembaga Penelitian dan Pengembangan
      • Lembaga Penanganan Bencana
      • Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqqoh
      • Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
      • Lembaga Seni Budaya dan Olahraga
      • Lembaga Hubungan dan Kerjasama International
  3. Organisasi Ortonom
    • Aisyiyah
    • Pemuda Muhammadiyah
    • Nasyiyatul Aisyiyah
    • Ikatan Pelajar Muhammadiyah
    • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
    • Hizbul Wathan
    • Tapak Suci